
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa ia lebih memilih untuk menggunakan kekuatan militer AS guna mengambil alih cadangan minyak Iran yang melimpah. Namun, ia mengakui bahwa rakyat Amerika saat ini lebih menginginkan agar pasukan militer segera pulang.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di sela-sela acara Easter Egg Roll di Gedung Putih pada Senin (6/4/2026). Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan di tengah suasana Paskah, Trump menegaskan pandangannya yang transaksional terhadap konflik yang tengah berlangsung.
“Ambil minyaknya karena minyak itu ada di sana untuk diambil,” ujar Trump. “Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Sayangnya, rakyat Amerika ingin melihat kita pulang. Jika keputusan ada di tangan saya, saya akan mengambil minyak itu. Saya akan menyimpannya. Saya akan menghasilkan banyak uang,” tambahnya.
Sentimen Pebisnis dalam Perang
Trump, yang sering menyebut dirinya sebagai seorang “pebisnis,” membandingkan gagasannya ini dengan operasi militer AS di Venezuela sebelumnya, di mana ia mengklaim AS telah bermitra dan mengambil jutaan barel minyak untuk dikilang. Menurutnya, mengambil alih sumber daya adalah cara untuk menutupi biaya perang dan memastikan keuntungan bagi Amerika Serikat.
Meskipun mengklaim mendapatkan dukungan besar dari basis pendukungnya (MAGA), Trump mencatat adanya tekanan dari internal Partai Republik dan masyarakat umum agar perang yang telah memasuki minggu keenam ini segera diakhiri. “Saya hanya merasa rakyat Amerika mungkin tidak akan mengerti (jika kita tetap tinggal untuk mengambil minyak),” jelasnya.
Ancaman “Hari Pembangkit Listrik dan Jembatan”
Pernyataan mengenai minyak ini muncul bertepatan dengan tenggat waktu keras yang diberikan Trump kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Melalui media sosial Truth Social, Trump memperingatkan Iran dengan bahasa yang sangat tajam.Ia menetapkan Selasa pukul 20.00 ET (Rabu pagi WIB) sebagai batas akhir bagi Iran. Jika Selat Hormuz tidak dibuka, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran secara total.”Selasa akan menjadi ‘Hari Pembangkit Listrik’ dan ‘Hari Jembatan’ yang digabung menjadi satu di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu sebelumnya!!! Buka Selatnya… atau kalian akan hidup di Neraka — LIHAT SAJA!” tulis Trump.
Reaksi Teheran
Pihak Teheran melalui juru bicara kepresidenan, Seyyed Mehdi Tabatabai, menanggapi ancaman tersebut sebagai bentuk “keputusasaan dan kemarahan” dari pihak Washington. Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka jika seluruh kerugian akibat perang dikompensasi melalui rezim hukum baru yang menggunakan pendapatan dari biaya transit.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026 ini telah menyebabkan lonjakan harga minyak global dan ketegangan diplomatik, di mana Trump juga mengkritik sekutu NATO-nya yang enggan bergabung dalam operasi militer tersebut.
