
Jakarta, 16 Mei 2026 Di pagi hari yang cerah di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, anak-anak panti asuhan berkumpul dengan antusias. Bukan untuk pelajaran biasa, melainkan untuk sebuah pertemuan yang bisa mengubah cara pandang mereka terhadap masa depan. Enam mahasiswa Program Studi S1 Teknologi Informasi, Universitas Telkom, hadir membawa satu pesan sederhana namun penuh makna: teknologi bukan hanya untuk dinikmati, tapi juga untuk mengubah nasib.

Dua Jam yang Bisa Mengubah Sudut Pandang
Kegiatan berlangsung selama dua jam penuh dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Kelompok, Jibril Dharmawan, yang memperkenalkan tim dan menyampaikan gambaran kegiatan kepada para peserta. Sambutan hangat kemudian diberikan oleh Dosen Pembimbing, Annisa Desianty, yang memberikan motivasi kepada anak-anak agar tidak minder dalam bermimpi besar.
Memasuki sesi inti, dua pemateri Jibril Dharmawan dan Khalisa Assyifa Zahrah memaparkan materi secara bergantian mengenai berbagai jalur karir di bidang teknologi informasi. Dengan bahasa yang ringan dan relevan dengan keseharian remaja, mereka menjelaskan bahwa profesi di dunia IT tidak hanya untuk mereka yang berlatar belakang keluarga mampu atau bersekolah di institusi bergengsi. Yang terpenting adalah semangat belajar dan keberanian untuk memulai.
Suasana semakin cair saat sesi permainan edukatif dipimpin oleh Rika Siti Haliza, Muhammad Adrian Kamil dan Jibril Dharmawan. Tawa dan semangat anak-anak mengisi ruangan, membuktikan bahwa belajar bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dua buku menarik pun disiapkan sebagai hadiah bagi pemenang.
Acara ditutup dengan makan bersama momen kebersamaan yang mempererat ikatan antara tim mahasiswa dan anak-anak panti. Di meja makan, obrolan hangat masih mengalir, membahas mimpi-mimpi yang mulai terbentuk

Permasalahan Nyata di Balik Tembok Panti
Sebelum kegiatan berlangsung, tim melakukan observasi dam survey terhadap anak anak secara berkala selama 3 minggu sebelum di laksanakannya acara. Hasilnya menemukan empat permasalahan mendasar yang kerap tidak terlihat dari luar:
Pertama, minimnya orientasi karir. Banyak anak yang tidak memiliki gambaran jelas tentang apa yang akan mereka lakukan setelah lulus sekolah, sehingga rentan terjebak dalam pekerjaan informal tanpa kepastian masa depan.
Kedua, pemanfaatan teknologi yang masih konsumtif. Meski memiliki akses ke perangkat digital, keseharian mereka lebih banyak dihabiskan untuk mengonsumsi konten hiburan tanpa melihat teknologi sebagai alat produktif.
Ketiga, terbatasnya akses informasi dunia kerja digital. Tanpa paparan yang cukup, anak-anak tidak mengetahui bahwa profesi-profesi di bidang IT bisa menjadi pintu keluar dari keterbatasan ekonomi.
Keempat, kurangnya figur inspiratif di bidang IT. Di lingkungan panti, jarang ada kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para profesional teknologi yang bisa menjadi role model.

Harapan yang Ditanam, Benih yang Akan Tumbuh
Kegiatan pengmas ini bukan sekadar ceramah sehari yang berlalu begitu saja. Tim mahasiswa merancangnya sebagai intervesi awal yang bermakna — menanamkan benih kesadaran bahwa masa depan seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh dari mana ia berasal, melainkan oleh keterampilan apa yang ia kuasai.
Bagi pengurus panti, kegiatan ini juga membuka wawasan tentang pentingnya literasi digital sebagai bekal yang wajib dimiliki anak-anak asuh mereka. Diharapkan setelah ini, pengurus dapat terus mendampingi dan mendorong anak-anak untuk mengeksplorasi dunia digital secara lebih produktif.
Sementara bagi tim mahasiswa sendiri, ini adalah wujud nyata dari tanggung jawab akademis sekaligus sosial — bahwa ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk memberikan dampak bagi masyarakat sekitar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Teknologi Informasi untuk Masyarakat (TIUM), Prodi S1 Teknologi Informasi, Fakultas Informatika, Universitas Telkom, Tahun Akademik 2025/2026.
