
Wabah hantavirus yang terungkap di kapal pesiar MV Hondius memicu perhatian otoritas kesehatan internasional. Kapal ekspedisi tersebut sebelumnya berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026 dan dilaporkan membawa lebih dari seratus penumpang serta awak kapal dari berbagai negara.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebutkan bahwa pada 2 Mei 2026 pihaknya menerima laporan adanya klaster penyakit pernapasan berat di kapal tersebut. Hingga 4 Mei 2026, tercatat tujuh kasus, terdiri atas dua kasus terkonfirmasi hantavirus dan lima kasus suspek. Dari jumlah tersebut, tiga orang meninggal dunia, satu pasien dalam kondisi kritis, dan beberapa lainnya mengalami gejala ringan.
Perkembangan terbaru menunjukkan jumlah kasus yang dikaitkan dengan klaster MV Hondius bertambah. Otoritas Singapura melaporkan bahwa hingga 6 Mei 2026 terdapat delapan kasus termasuk tiga kematian yang terhubung dengan kapal tersebut. Tiga kasus telah dikonfirmasi terinfeksi hantavirus, sementara sisanya masih dalam penyelidikan.
Operator kapal, Oceanwide Expeditions, menyatakan bahwa 114 tamu naik ke MV Hondius dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Sebanyak 30 tamu kemudian turun di Saint Helena pada 24 April 2026, termasuk jenazah seorang penumpang yang meninggal di kapal pada 11 April. Kasus hantavirus pertama baru terkonfirmasi pada 4 Mei 2026, sehingga penelusuran terhadap penumpang yang telah turun dari kapal menjadi perhatian penting.
Sejumlah negara kini melakukan pelacakan kontak terhadap penumpang dan awak kapal yang kemungkinan terpapar. Singapura, misalnya, mengisolasi dua warganya yang pernah berada di MV Hondius dan juga melakukan tes hantavirus di National Centre for Infectious Diseases. Satu orang dilaporkan mengalami gejala ringan, sementara satu lainnya tidak menunjukkan gejala.
Hantavirus umumnya ditularkan melalui paparan urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Namun, jenis tertentu seperti Andes virus diketahui dapat menular antarmanusia dalam kondisi terbatas. Karena itu, otoritas kesehatan menekankan pentingnya pemantauan ketat, isolasi, dan pelacakan kontak terhadap orang-orang yang pernah berada di kapal atau melakukan kontak dekat dengan pasien.
Meski menimbulkan kekhawatiran, WHO menilai risiko terhadap populasi global saat ini masih rendah. Namun, masa inkubasi hantavirus yang dapat berlangsung beberapa minggu membuat otoritas kesehatan tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya kasus tambahan.
Kasus MV Hondius menjadi pengingat bahwa perjalanan internasional, khususnya ekspedisi ke wilayah terpencil, memerlukan kesiapsiagaan kesehatan yang kuat. Pemeriksaan kesehatan, pelaporan gejala secara cepat, serta koordinasi antarnegara menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit lintas batas.
