Gempa bumi kuat bermagnitudo 7,8 mengguncang wilayah selatan Filipina, tepatnya di sekitar Mindanao, pada Senin, 8 Juni 2026. Guncangan besar tersebut menyebabkan kerusakan luas, menewaskan sedikitnya 45 orang, melukai ratusan warga, dan membuat lebih dari 25 ribu orang mengungsi.
Pusat gempa dilaporkan berada di laut, sekitar wilayah Sarangani, Filipina selatan. Guncangan kuat terasa di sejumlah wilayah Mindanao, termasuk General Santos City. Sejumlah bangunan, rumah, fasilitas pemerintah, jalan, dan jembatan dilaporkan mengalami kerusakan. Bandara Internasional General Santos juga sempat ditutup akibat dampak gempa.
Setelah gempa utama, ribuan gempa susulan terjadi dan menghambat proses pencarian serta evakuasi. Associated Press melaporkan terdapat lebih dari 2.100 gempa susulan, sebagian di antaranya cukup kuat, sehingga tim penyelamat harus bekerja dengan sangat hati-hati.
Gempa ini juga memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia. BMKG menyatakan peringatan dini tsunami akibat gempa Mindanao tersebut telah berakhir pada 8 Juni 2026. BMKG juga mencatat adanya kenaikan muka air laut di beberapa wilayah Indonesia setelah gempa terjadi.
Pemerintah Filipina mengerahkan petugas penyelamat, militer, dan relawan untuk membantu korban di daerah terdampak. Fokus utama penanganan saat ini adalah pencarian korban, evakuasi warga, pendirian tempat pengungsian, serta pemulihan fasilitas dasar seperti listrik, air bersih, dan akses transportasi.
Ringkasan Kejadian
| Keterangan | Informasi |
|---|---|
| Lokasi | Mindanao, Filipina Selatan |
| Waktu kejadian | Senin, 8 Juni 2026 |
| Magnitudo | 7,8 |
| Korban meninggal | Sedikitnya 45 orang |
| Korban luka | Ratusan orang |
| Pengungsi | Lebih dari 25.000 orang |
| Dampak | Rumah, jalan, jembatan, fasilitas umum, dan bandara terdampak |
| Status tsunami | Peringatan dini tsunami telah diakhiri BMKG |
Gempa di Filipina ini kembali menunjukkan tingginya risiko bencana di kawasan Cincin Api Pasifik. Filipina dan Indonesia sama-sama berada di wilayah rawan gempa, sehingga masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari lembaga kebencanaan dan tidak mudah menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
