Gambaran Awal

Tim mahasiswa dari Telkom University Kampus Jakarta berhasil menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat (abdimas) berupa workshop berjudul “Workshop Pemanfaatan Internet dan Pengenalan Teknologi IoT sebagai Sistem Peringatan Dini Banjir”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Kamis, 21 Mei 2026, bertempat di Aula Pondok Pesantren Darul Hasan, Cipondoh, Kota Tangerang. Workshop ini merupakan tahap implementasi dari mata kuliah Teknologi Informasi untuk Masyarakat (TIUM) yang bertujuan untuk menghadirkan manfaat nyata teknologi informasi bagi lingkungan sekitar.
Audiensi yang Terlibat
Kegiatan dihadiri oleh total 87 peserta yang terdiri dari 82 siswa/i SMP Islam Darul Hasan selaku audiens utama, serta 5 orang guru pendamping dari sekolah tersebut. Antusiasme para siswa-siswi tampak tinggi sejak awal hingga akhir acara, mencerminkan besarnya minat generasi muda terhadap topik teknologi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Tim mahasiswa Telkom University Kampus Jakarta yang dibimbing oleh dosen mereka Annisa Desianty, S.Kom., M.Kom., beranggotakan tiga mahasiswa, yakni Dhafa Pratama, Michio Avryant Gervaise, dan Afif Maulana Yusuf. Ketiga mahasiswa berperan langsung sebagai presenter secara bergantian membawakan materi kepada para peserta, sehingga penyampaian berjalan dinamis dan menyenangkan.
Rangkuman Materi yang Disampaikan

Workshop dimulai dengan pengenalan konsep penggunaan internet yang bertanggung jawab dan teknologi yang bermanfaat, di mana para audiens terdorong untuk menghargai dan menyadari bahwa internet itu bukan hanya sumber hiburan tetapi juga bisa menjadi alat yang sangat berharga bagi masyarakat luas.
Materi utama yang disampaikan ialah pengenalan tentang Internet of Things (IoT), yaitu kemampuan perangkat fisik untuk terhubung ke internet agar dapat mengumpulkan dan mengirimkan data secara otomatis. Tim tersebut menjelaskan tiga komponen utama dari IoT yang sering digunakan, yaitu sensor, perangkat keras atau hardware, serta internet dan juga aplikasi. Manfaat dari IoT ini termasuk pemantauan real-time 24 jam, meningkatkan keakuratan data, dan kemampuan untuk mengirim peringatan secara otomatis juga dijelaskan sebagai alasan mengapa teknologi ini sangat relevan dengan dunia nyata.
Sesi tersebut kemudian berlanjut ke fokus utama dalam workshop, yaitu pengenalan Sistem Peringatan Dini Banjir. Para peserta yang hadir diperlihatkan secara langsung bagaimana mekanisme kerja sistem yang serupa dengan alarm kebakaran. Alur kerja sistem IoT juga diperlihatkan secara visual, dimulai dari sensor yang mendeteksi kenaikan permukaan air, data yang dikirimkan melalui internet, kemudian diterima dan dianalisis oleh server, hingga alarm peringatan diaktifkan dan didengar oleh pengguna.
Demonstrasi Prototipe NotiFlood secara Langsung
Hal yang membuat workshop ini menjadi lebih menarik adalah ketiga mahasiswa melakukan demonstrasi langsung berupa prototipe alat IoT karya tim, yaitu NotiFlood. Tim membawa komponen-komponen nyata yang digunakan dalam proyek tersebut, meliputi ESP32 sebagai microcontroller utama yang bertugas mengolah dan mengirim data, sensor ultrasonik JSN-SR04T untuk mengukur ketinggian debit air, modul GSM sebagai sarana komunikasi data, serta Tipping Bucket Rain Sensor untuk mendeteksi intensitas curah hujan.
Demonstrasi fisik ini disambut antusias oleh para siswa-siswi, karena dapat melihat langsung komponen elektronik yang selama ini mungkin hanya mereka lihat dari sosial media ataupun internet sehingga menjadikan workshop ini pengalaman yang berbeda dan menarik.
Sesi Tanya Jawab yang Interaktif
Selain itu, tingkat antusiasme peserta tergolong tinggi tercermin dari banyaknya siswa-siswi yang ingin mengajukan pertanyaan. Namun, mengingat keterbatasan waktu, tim mempersilakan dua orang perwakilan untuk bertanya.
Peserta pertama mengajukan pertanyaan yang cukup kritis: “Untuk proyek NotiFlood, fungsinya ini hanya sistem peringatan dini atau juga dapat mencegah dan mengetahui curah hujan yang akan datang?”. Tim merespons bahwa fungsi utama NotiFlood saat ini adalah sebagai sistem peringatan dini banjir, sehingga masih diperlukan kerja sama dengan masyarakat dan pemerintah setempat untuk melakukan tindakan antisipasi. Namun, tim juga menyampaikan harapan pengembangan ke depannya dengan penambahan fitur-fitur baru yang lebih lengkap.
Peserta kedua mengajukan pertanyaan yang lebih ringan namun tak kalah relevan: “Pas kakak bikin proyek ini, mahal atau enggak? Dana yang dibutuhkan itu berapa?” Pertanyaan ini disambut tawa hangat dari seluruh hadirin. Tim pun menjelaskan bahwa proyek ini mendapatkan dukungan pendanaan dari pihak Telkom University dan Danantara Indonesia senilai sekitar Rp21 juta, yang mencakup biaya transportasi, pembelian komponen alat, dan kebutuhan operasional lainnya.
Sesi Penutup dan Evaluasi Pemahaman
Sebelum mengakhiri sesi, tim memberikan satu pertanyaan evaluasi kepada audiens guna mengukur sejauh mana materi yang sebelumnya disampaikan berhasil diserap. Pertanyaan yang diajukan adalah mengenai fungsi dari komponen ESP32 dalam sistem NotiFlood. Salah satu siswa tampil menjawab dengan sedikit malu-malu: “ESP32 ini, kalau yang tadi saya dengar dari kakak semua, dia jadi otak utama biar alat peringatan dini ini bisa berjalan sesuai dengan fungsinya.” Jawaban tersebut dibenarkan oleh tim karena sudah mendekati penjelasan yang disampaikan, menandakan bahwa pemahaman siswa terhadap materi cukup baik.
Dampak bagi Audiensi yang Hadir
Kegiatan workshop ini sangat bermanfaat bagi para peserta, terutama siswa-siswi SMP Islam Darul Hasan. Pertama, para siswa belajar bahwa teknologi internet dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas daripada sekedar hiburan dan sosial media. Kini mereka tahu bahwa Internet of Things (IoT) adalah teknologi yang bisa menyelamatkan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang sering dilanda bencana banjir.
Kedua, para peserta mempelajari cara nyata untuk mewujudkan teknologi dari sebuah ide menjadi alat fungsional melalui demonstrasi langsung prototipe proyek tim. Harapannya adalah untuk menstimulasikan minat dan motivasi dari para siswa untuk melanjutkan pendidikan mereka ke bidang teknologi informasi pada jenjang yang lebih tinggi di masa depan.
Ketiga, menyampaikan pesan bahwa penggunaan teknologi yang baik dan bertanggung jawab merupakan bagian dari karakter yang baik merupakan pesan moral yang relevan dengan para peserta yang menempuh pendidikan di pesantren. Nilai ini menjadi fondasi untuk memastikan bahwa generasi muda tidak hanya melek teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya demi kebaikan bersama.
Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu menghasilkan inovasi teknologi di lingkungan kampus semata, tetapi juga mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat melalui pendidikan yang menyenangkan, interaktif, dan relevan dengan tantangan dunia nyata yang mereka hadapi.
